Soal Pekerjaan

0

Orang sukses dan berhasil itu tidak harus bekerja dari atas. Misal menjadi staff, pekerja kantoran (sekretaris, leader group, manager, dll). Tidak harus.

Saya Renita Majesti ingin merasakan keberhasilan melewati tikungan tajam dan ombak yang besar.

Bekerja dari bawah terlebih dahulu menjadi pekerja yang biasanya dipandabg sebelah mata oleh semua orang. Selalu diremehkan dan diejek oleh orang-orang yang tidak memahami makna kehidupan.

Sebelum merasakan kesuksesan ada baiknya mungkin bekerja menjadi orang bawah seperti mereka (Orang yang sudah merasakan kesuksesan setelah melewati liku-liku kehidupan

Pekerjaan apapun pasti akan menunjukkan kesuksesan tanpa kita sadari. Entah itu melewati pekerjaan sampingan (online shop, membuat kue dihari libur dan lain sebagainya) atau pekerjaan itu sendiri.

Kita tidak hidup sendirian Man. Hidup kita dipenuhi oleh orang-orang yang bersedia membantu kita. Asal kita tidak mengambil keputusan yang sembarang. Misal kita menerima pekerjaan dari orang yang tidak kita kenal secara langsung atau lewat media sosial. Kita harus hati-hati, Man.

Jadi, untuk siapapun yang memiliki pekerjaan apapun selama itu pekerjaan memenuhi syarat kehidupan sehat. Maksudnya pekerjaan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka, kerjakanlah dengan baik dan tetap semangat. Pertahankan dan jangan mudah menyerah. Ingatlah kita bekerja untuk siapa.

Orang-orang yang sering kita lihat berhasil, kebanyakan mereka juga bekerja dari bawah. Ada yang menjadi sales, tukang becak, buruh, pengamen, dan lain sebagainya. Tapi, bukan pekerjaan yang harus kita pahami. Tapi, semangat mereka berjuang untuk hidup mereka dan pasti keluarga.

Paling utama, ingatlah ALLAH SANG PENCIPTA yang tidak pernah tidur dan selalu bersedia membantu kita. Allah, tidak akan memberikan cobaan diluar batas umatnya, benarkan?

You doesn’t love me (Coretan Puisi)

0

Matamu selalu bersinar

Jika melihat mereka

Matamu selalu berbinar

Jika bersama mereka

Tapi, mata bersinar itu redup

Jika kau melihatku

Mata yang berbinar itu menghilang

Jika kau bersamaku

Aku selalu menatapmu sedih

Kau tersenyum senang

Jika bersama mereka

Mataku selalu mengawasimu

Auramu terlihat bercahaya

Jika dekat mereka

Kenapa hanya aku?

Kau tatap tajam

Kenapa hanya bersamaku?

Kau bentak diriku

Semakin lama aku lemah karenamu

Semakin lama aku lelah denganmu

Semakin lama hatiku mati rasa

Lepaskanlah aku

Bebaskan aku

Biarkan aku pergi membawa luka ini sendirian

Friendzone (Coretan puisi)

0

Aku sedang menulis ditaman

Lalu kau datang

Kau mengatakan sesuatu padaku

Hatiku seperti disambar petir

 

Aku berjalan sendiri di pantai

Lalu melihatmu membawa bunga

Senyuman tak pernah sirna diwajahmu

Bunga?

Itu bukan untukku

Tapi untuk gadis disana

 

Kau terlihat bahagia

Kau sangat senang dan tertawa

Tapi, bukan denganku

Namun dengannya

 

Aku iri dengannya

Kau begitu dekat denganku

Tapi, dia yang memilikimu

Sakit

Hanya melihatmu tapi, tidak bisa memelukmu

Because I Love You (Chapter 01)

1

Author : ATINERM0461

Rated  : T

Cast     : Choi Yura, Choi Siwon and other cast

Genre  : Romance, Family, sad

TWOSHOOT

 

Pagi hari yang cerah membuat semua penghuni semangat untuk bangun dari tidurnya dan memilih untuk berjalan-jalan menyegarkan diri dengan pemandangan di taman dekat rumah mereka. Menghirup udara pagi yang akan membuat pikiran mereka jernih dan menyejukkan diri mereka yang lelah dengan kegiatan-kegiatan rutinitas disetiap hari. Ada beberapa dari mereka memilih membaca koran pagi dan ditemani dengan secangkir kopi serta beberapa biskuit didepannya.

Berbeda dengan sebuah rumah besar bak istana yang dihuni oleh keluarga bahagia. Didalam rumah terlihat sang Ayah yang sedang membaca koran dan sesekali menyeruput kopi yang dibuat oleh istrinya. Sedangkan, sang istri sedang berkutat dengan dapur menyiapkan sarapan.

Sementara itu, dikamar terlihat wanita cantik yang sudah menjadi istri dari putra pemilik rumah itu yang tadi seang membaca koran. Wanita itu bernama Yura tengah meregangkan tubuhnya agar otot-otot dalam tubuhnya tidak tegang. Lalu dia turun dari ranjang empuk kesayangannya dan melangkahkan kakinya menuju kusen. Dibukanya jendela yang berada didepannya, senyuman terlihat jelas diwajah cantiknya saat merasakan terpaan angin pagi menyambut dirinya. Tetapi, senyuman itu memudar saat mengingat peristiwa pada dua hari lalu. Dimana dia datang ke kantor suaminya untuk memberikan sebuah kejutan dan ternyata bukan suaminya yang terkejut, melainkan dirinyalah yang dikejutkan oleh sebuah pernyataan.

#Flashback On

Pagi itu Yura sudah berpenampilan rapi dan cantik dengan Navy Blue Polka Dress berlengan diatar sikunya. Wanita cantik itu menggunakan Ankle Boots Pink Soft Colour sebagai alasnya. Rambut panjangnya dia kuncir setengah membuatnya bagaikan putri yang cantik disebuah istana. Tas kecil mengalung indah dibahu sempitnya, didalam tas itu ada sebuah bukti dari berita yang akan dia berikan kepada suaminya. Kini dia berdiri didepan gedung megah perusahaan tempat suaminya bekerja. Dia tersenyum dan ceria tidak sabar dengan reaksi suaminya, ketika dirinya datang dan memberitahukan sebuah berita yang membahagiakan.

Para karyawan yang memang sudah sangat mengenal dirinya yang adalah seorang istri dari CEO muda, Choi Siwon. Menyapanya ramah dan sopan setiap kali mereka bertemu dengan Yura, wanita cantik itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis sebagai jawabannya. Ada beberapa pasang mata yang saling berbisik-bisik melihat dia datang, Tatapan mata mereka tak pernah lepas dari sosok wanita cantik istri atasan mereka. ‘Lihat! Istri Choi Sajangnim. Sangat cantik dan manis’ ‘Senyumannya menenangkan’ ‘Dia terlihat anggun dengan dress yang dia pakai’ seperti itu bisikan-bisikan yang dia dengar.

Yura hanya tersenyum menanggapi ucapan-ucapan mereka yang begitu memuji dirinya. Yura memang sangat cantik dan manis tetapi, dia bukanlah wanita yang sombong dan menyebalkan. Bahkan dia terkesan pemalu dan baik hati serta sifat dan sikapnya lembut terhadap siapapun. Dia bagaikan malaikat yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi dan menjadi pendamping hidup seorang pria tampan bernama Choi Siwon.

Sesampainya, Yura kini berada didepan kantor suaminya bekerja. Wanita cantik itu mengatur nafasnya agar degup jantungnya teratur dan mehanan senyum yang akan meledak. Dia benar-benar tidak sabar dengan kejutan yang sudah dia renacanakan kemarin. Saat sudah tenang tangannya terulur memegang knop pintu dan membukanya perlahan. Saat dia masuk, mata indahnya menangkap pemandangan yang menyakitkan. Disana pria tampan yang menjadi suaminya sedang memeluk tubuh wanita lain yang dia yakini adalah temannya.

“Siwon Oppa” panggilnya lirih dengan pandangan matanya yang kini dipenuhi kesedihan. Yang dipanggil menolehkan kepalanya dan matanya langsung melebar melihat wanita yang sudah terkait dengannya berdiri dengan tatapan sedihnya.

“Ada apa kesini?” ucap Siwon dingin dengan raut wajah datarnya. Tangannya melepaskan pelukannya dan berdiri menghadap Yura yang masih berdiri mematung diambang pintu.

“Oppa, apa yang kau lakukan dengannya?” tanya Yura sambil melangkahkan kakinya secara perlahan.

“Hanya ingin bersenang-senang” jawab Siwon acuh.

“OPPA! BUKANKAH KAU SUDAH MEMILIKI ISTRI, EOH” ucap Yura dengan suara yang meninggi. Wanita yang tadi dipeluk oleh Siwon tersentak mendengar bentakkan dari Yura. Ini pertama kalinya dia mendengar wanita yang memiliki sifat lemah lembut itu marah. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam diam tak berani menatap Yura yang sedang menatapnya.

“Aku tahu. Tapi, istriku tidak pernah membuatku bahagia” ucap Siwon berjalan menghampiri istrinya itu. Yura kini mengalihkan perhatiannya pada suaminya kembali.

“Oppa, aku..” ucapan Yura terpotong dengan suara Siwon.

“Kau tahu? Kau itu selalu bersikap manja dan menyebalkan padaku. Kau tidak pernah memberi kebahagiaan kepadaku” ujar Siwon seraya menolehkan kepalanya ke samping dan menghembuskan nafas keras. “Kau lihat! Dia itu bisa melakukan apapun yang belum tentu bisa kau lakukan. Dia adalah wanita karir dan tipe yang bekerja keras. Sedangkan kau..” jeda Siwon sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau bahkan selalu membutuhkan bantuan Shin Ahjumma untuk urusan pribadimu. Dan lihatlah dirimu yang sekarang. Hidup enak membuat tubuhmu berisi. Apa kau senang hidup dikelilingi oleh banyak uang yang selalu mengalir tanpa kau bekerja, eoh? Tapi, dia..” jeda Siwon lagi sambil menunjuk wanita yang berdiri dibelakangnya. “Dia bekerja begitu keras untuk hidupnya yang terbilang minim” lanjutnya.

“Oppa”

“Kau tahu? Aku menyesal menikahimu yang pada akhirnya aku sendiri yang rugi”

Deg

Hati Yura langsung hancur begitu mendengar semua ucapan dari suaminya itu. Dia berdiri dengan tubuh yang membeku.

“Oppa, kenapa kau berbicara seperti itu?” tanya Yura lirih. Matanya mulai berkaca-kaca seperti akan menangis. Tapi, dia menahannya agar tangisannya tidak pecah. “Apa karena dia kau berkata seperti tadi, eoh? Iya kan, Oppa” seru Yura.

Wanita cantik itu hendak melangkahkan kakinya menghampiri wanita yang berada dibelakang Siwon. Tetapi, Siwon dengan cepat menahan dirinya dan menarik pergelangan tangannya erat. Ditariknya wanita itu dengan paksa menuju pintu kantornya. Yura sedari tadi memberontak dan mengatakan bahwa dia akan memberi pelajaran pada wanita yang masih setia menundukkan kepalanya.

“Pergi kau. Dasar istri yang tidak berguna. Seharusnya kau tetap di rumah dan jangan pernah pergi kesini. Karena ini bukanlah tempatmu” seru Siwon. Lalu pria tampan itu membanting pintu tepat didepan Yura.

Tangis Yura pun pecah saat itu juga. Dia menangis dalam diam sambil menundukkan kepalanya. Dia meraba perutnya yang masih terlihat datar lembut dan memejamkan matanya erat. ‘Kau yang sabar ya, sayang. Semua akan baik-baik saja’ ucapnya pelan dengan isakkan yang tertahan. Wanita cantik itu masih menundukkan kepalanya dan memandangi perutnya yang didalamnya ada sebuah kehidupan lain tengah berada dirahimnya. Ya, dia kini sedang hamil selama 3 minggu. Tujuan dia datang ke kantor suaminya untuk memberitahu bahwa dia sedang hamil dan kabar baik yang lain. Kabar baik yang lain adalah dia kini bekerja disebuah Fashion style milik bibi sekaligus adik dari Ayah Siwon. Dia diterima diposisi yang menciptakan karya pada bagian design style, karena memang dia sangat mahir dalam membuat design sejak dia berada dibangku Senior High School.

Yura kini berjalan keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah yang terlihat sedih, meski begitu kecantikannya tetap tidak hilang. Dia berjalan gontai dengan pandangan kosong, beberapa pasang mata yang tadi bertemu dengannya. Mereka yang seolah-olah mengerti apa yang dirasakan wanita cantik itu ikut merasa sedih.

“Ada apa dengan nyonya Choi itu” ucap salah satu wanita yang berada dikerumunan beberapa orang disana.

“Molla. Pasti ada yang tidak beres dengannya” sahut pria disampingnya.

“Mungkin. Aku harus cari tahu” ucap pria paling muda disana membuat yang lain menoleh. “Wae? Aku hanya tidak suka melihat ekspresi dari wanita cantik yang sedih seperti Nyonya Choi” ucapnya lagi.

“Kau benar. Aku akan membantumu” ujar wanita yang pertama tadi. Lalu mereka bubar dan melanjutkan kegiatan-kegiatan yang sempat tertunda tadi.

#Flashback Off

 

~S&Y~

 

Yura kini berada diruang keluarga seraya melihat isi laptopnya untuk mengecek hasil penjualan dari dress yang dia design satu hari setelah peristiwa itu. Dia tersenyum kembali saat melihat hasil yang memuaskan untuk dirinya, meski sudah sampai target dia berpikir untuk berusaha lebih keras lagi agar hasil desing-nya selalu memenuhi target.

“Hah, syukurlah. Terima kasih, Tuhan. Untuk hasil hari ini. Aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi” ucapnya pada diri sendiri.

“Jangan terlalu memaksakan diri, sayang” ucapan itu membuat Yura langsung menolehkan kepalanya cepat.

“Eommonim, sudah pulang” seru Yura semangat melihat Ibu mertuanya yang kini sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya. Yura berdiri bersiap menghampiri Ibu mertuanya itu dan memberikannya sebuah pelukan, hal yang biasa dia lakukan setiap dia atau Mrs. Choi pulang ke rumah mewah itu.

“Ya! Jangan banyak bergerak” ucap Ibu mertuanya seraya berjalan menghampiri menantu cantiknya. Yura hanya meringis lebar mendengar ucapan wanita itu.

“Bagaimana? Apa semua baik-baik saja?” tanya Mrs. Choi seraya mengusap surai hitam kelam Yura.

“Ne” jawab Yura semangat. Yura tersenyum manis sehingga memperlihatkan eyes smile indahnya.

“Syukurlah. Oh iya, Eommonim membelikanmu ini, sayang” ucap Mrs. Choi sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Tadaaa~” serunya seraya menunjukkan sekotak cokelat kesukaan menantunya.

Yura memekik girang sambil melihat sekotak cokelat itu. “Wah~ gomawoyo, Eommonim” ucap Yura seraya memeluk tubuh Mrs. Choi erat.

“Ne, sayang” balas Mrs. Choi seraya membalas pelukan wanita yang sudah dia anggap putrinya sendiri. Tangan hangatnya mengusap lembut punggung Yura sayang.

Saat Yura menikmati cokelat bersama dengan Mrs. Choi. Terdengar suara pintu depan terbuka dan lalu suara debuman pelan. Setelahnya hanya suara sepatu yang terdengar ditelinga Yura dan Mrs. Choi. Siwon berjalan melewati ruang tengah dimana disana ada Yura dan Mrs. Choi yang sedang menikmati perbincangan mereka.

“Siwonie, kau sudah pulang?” tanya Mrs. Choi saat melihat putranya berjalan didepannya.

“Hem” jawab Siwon sambil memandang ke depan dan tetap berjalan. Melihat suamina seperti itu membuat Yura menatap Siwon nanar. Dia tersenyum miris dengan tingkah Siwon yang seperti itu. Semenjak peristiwa di kantor itu suaminya kini mendiamkannya dan bahkan pria tampan itu seperti tidak menganggapnya ada disana.

“Gwenchana?” tanya Mrs. Choi saat melihat raut menantunya menjadi murung. Suara Mrs. Choi menyadarkan Yura dari keterdiamannya dengan wajah kusutnya.

“N.. ne Gwenchanayo, Eommonim” jawab Yura gugup.

“Jangan diambil hati menghadapi sikap Siwon barusan, hem. Mungkin saja dia sedang ada masalah atau pekerjaan kantornya yang belum selesai” ujar Mrs. Choi lembut seraya mengusap sisi kepala Yura.

“Ne. Algeuseyeo, Eommonim” ucap Yura seraya tersenyum. Senyuman yang dipaksakan.

 

~S&Y~

 

Setiap saat, setiap waktu dan setiap hembusan nafas yang masih bisa dirasakan. Yura tetap bersabar menghadapi sifat dan sikap Siwon yang benar-benar berubah padanya. Entah kenapa pria tampan itu bisa begitu dingin dan kasar terhadap dirinya. Padahal dulu ketika mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, suaminya itu bersikap begitu lembut dan menyenangkan. Bahkan Lee Ahjumma pernah mengatakan bahwa pria itu tidak pernah bersikap sekasar itu pada siapapun. Apalagi dengan seorang wanita. Namun, kini perlakuan pria bertubuh atletis itu berubah tidak seperti Siwonnya yang dia kenal.

Yura hanya bisa menghela nafas ketika berhadapan dengan suaminya. Entah, saat dia sedang menyiapkan makanan disetiap paginya yang akan diabaikan oleh suaminya. Atau pakaian mana yang akan dipakai pria itu untuk bekerja dan pada akhirnya Siwon tidak menyentuhnya sama sekali. Dan lebih memilih pakaiannya sendiri. Didalam hati Yura dia sangat sedih dan kecewa menghadapi kenyataan bahwa suaminya terlihat begitu membenci dirinya dan terkesan hanya menganggap dirinya tidak ada. Tapi, dibalik semua perasaannya itu wanita yang kini tengah hamil muda masih mempertahankan perasaannya. Perasaan cintanya terhadap pria yang sudah menikahi dirinya dengan penuh cinta dulu. Perasaan yang tak akan pernah dia rasakan pada siapapun termasuk Eommonim dan Abojinim, sang mertua.

Yura begitu mencintai Siwon sang suami sepenuh hati, meski pada akhirnya pria tampan tersebut hanya menorehkan luka yang cukup dalam dengan perlakuannya. Setiap kali pria itu pulang dia akan membentak dan mengkasari wanita yang sudah menjadi istrinya. Bahkan tidak jarang Siwon pulang dengan keadaan mabuk berat. Hingga pada akhirnya, pria itu mendapat teguran dari kedua orang tuanya. Dan mereka menyuruh Yura untuk tidur sementara dengan Jiwon, adik kandung Siwon. Jiwon juga mengerti perasaan yang dirasakan Yura, Yura lebih muda daripada Jiwon. Maka dari itu, Jiwon selalu menenangkan Yura yang sedih dengan kata-kata penyemangatnya.

Yura yang sudah tidak tahan menghadapi perlakuan dan perbuatan suaminya. Dia mulai memberanikan diri untuk menemui pria yang menjadi suaminya diruang kerja yang ada disebelah kamar mereka. Yura masuk ke ruangan itu dengan membawakan teh hangat serta biskuit untuk pelengkap. Wanita cantik dan terlihat muda itu melihat sang suami yang masih berkutat dengan laptop yang ada didepannya. Dia menghembuskan nafas perlahan sebelum mendekati sang suami.

“O.. Oppa” panggil Yura yang sudah meletakkan nampannya di meja khusus tempat tamu meletakkan sesuatu disana. Yura maju sedikit untuk bisa bicara dengan suaminya. “Si.. Siwon.. Oppa, bo.. boleh.. aku.. bicara.. denganmu” ucap wanita itu terbata. Kedua tangannya mengatup didepan dadanya, berusaha menyalurkan kekuatan untuk menghadapi sang suami.

 

Belum ada tanggapan dari pria itu, Yura mengulangi ucapannya lagi. “O.. Oppa, aku serius untuk bicara denganmu” ucap wanita itu lagi. Pria itu menutup laptopnya kasar dan bangkit dari duduknya. Membuat Yura merinding ngeri melihat suaminya menatap dirinya tajam.

“Apa? Apa yang ingin kau bicarakan padaku, hah?” tanya Siwon dengan nada angkuhnya. Yura menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung mata yang menatapnya nyalang itu.

“A.. aku hanya..” belum selesai bicara Siwon sudah bersuara lagi.

“Kau dengar. Aku benar-benar bosan dan muak melihatmu berada disini. Aku benar-benar menyesal menikahimu yang tidak akan pernah bisa memberikanku kebahagiaan seperti yang aku impikan” ucap Siwon terang-terangan.

“Oppa, waeyo? Wae?” kini tanya Yura bergantian. “Apa yang harus aku lakukan agar kau bahagia? Katakan, Oppa” suara Yura terdengar bergetar mendengar ucapan Siwon barusan.

“Kau pikir sendiri. Apa yang biasa dilakukan oleh seorang istri pada suaminya” kata Siwon seraya membalikkan tubuhnya menghadap jendela yang menghubungkan dengan pemandangan diluar.

“Siwon Oppa, aku mohon. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali mencintaiku” ucap Yura lagi yang kini sudah menangis sesenggukkan.

“Kau pasti sudah tahu apa jawaban dari pertanyaanmu itu, kan? Untuk apa kau masih bertanya padaku. Dasar istri tak tahu diri” ucapan kasar Siwon membuat Yura memejamkan matanya.

Yura memang tahu jawaban dari pertanyaannya tapi, dia hanya ingin mendengar langsung jawaban dari suaminya. Selama ini dia belum memberitahu perihal kehamilan dan pekerjaannya pada pria yang tengah berdiri membelaknginya itu. Bahkan dia menyuruh siapapun untuk membungkam mulut mereka terhadap keadaan yang sedang dialami Yura kini. Maka dari itu, dia ingin mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Namun, sepertinya sudah terlambat. Dia kehilangan kepercayaan dari suaminya dan kini pria itu terkesan tidak menginginkan dirinya.

“Oppa.. selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik padamu. Bisakah kau tidak bersikap seperti aku ini adalah musuhmu” ucap Yura pelan membuat sang suami kembali menatap dirinya.

“Kau pikir aku tidak berusaha memperlakukanmu dengan baik. Hei, disini kau sudah bisa hidup enak dan tidak perlu bekerja. Sedangkan, aku bekerja pagi, siang, dan malam untuk siapa, hah. Untukmu. Untuk membuat kau tetap hidup. Bisa-bisanya kau mengatakan ucapan seperti itu” ujar Siwon dengan nada yang meninggi diakhir kalimatnya.

“O.. Oppa, bu.. kan maksud.. ku..” ucapan Yura kembali dipotong oleh suara Siwon.

“Yura, kau seharusnya berterima kasih padaku. Karena aku sudah menikahimu dan menghidupimu. Aku juga tidak menelantarkanmu sesuka hatiku, aku benarkan?” ucap pria tampan itu yang kembali menghadap ke jendela.

“Oppa” lirih Yura bergetar.

“Ah, sudahlah. Berdebat denganmu tidak akan ada selesainya” Siwon melangkahkan kakinya menuju pintu. Baru tiga kali langkahnya, Yura menggenggam telapak tangan besarnya pelan. Siwon yang terkejut dan memang dia masih marah pada istrinya. Dengan reflek dia mendorong tubuh itu dengan sekali dorongan. Yura mendarat dilantai dengan tidak amannya.

Wanita cantik itu kini merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan diperutnya, mengingat dia sedang hamil muda dan dorongan dari suaminya itu membuat dia merasakan sakit yang luar biasa. Dipeganginya perutnya itu dengan cengkeraman yang tidak terlalu kuat. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit. Siwon sendiri melihat itu dengan tatapan tidak peduli.

“Tidak usah berakting seperti itu, aku tidak akan termakan oleh aktingmu” ujarnya dengan seringaian yang tersamarkan. Mendengar ucapan itu membuat Yura takut terhadap pria didepannya. ‘Dia keterlaluan’ ucapnya sedih dalam hati.

“Kau jahat, O.. Oppa” lirih Yura mulai terisak lagi. “ARGH! SAKIT.. EOMMONIM.. EONNIE.. SAKITTTT!” teriaknya nyaring yang menggelegar ke seluruh penjuru ruangan itu.

“Tidak usah berteriak itu tetap tak akan mempan terhadapku” seru Siwon yang kembali tersulut emosinya.

“ARGH, PERUTKU SAKIT.. TOLONG AKU” teriak Yura lagi yang kini tidak memperdulikan suaminya. Dia memejamkan matanya rapat saat merasakan sakit yang luar biasa diperutnya, tepatnya dibagian rahimnya.

Mendengar jeritan Yura Mrs. Choi dan Jiwon masuk ke dalam ruangan itu. Mata mereka melebar ketika melihat tubuh wanita muda itu terduduk dilantai. “YURA!” seru mereka memanggil nama wanita itu dan segera menghmpirinya. Mereka sangat tahu bahwa Yura sedang hamil muda.

“Eommo.. nim. Sa.. kit” lirih Yura dengan suara seperti bisikan. Yura meringis ketika sakit itu masih dirasakannya.

“Bertahanlah, sayang. Bertahanlah” ucap Mrs. Choi. “Jiwonie, bantu Eomma membawa Yura ke rumah sakit. Sekarang, sayang” ucap Mrs. Choi dengan nada khawatir yang sangat jelas.

“Eomma, Darah!” seru Jiwon dengan mata melebar melihat darah yang mulai mengalir dikaki Yura. Mrs. Choi yang melihat itu semakin khawatir terhadap keadaan menantunya. “Yura, bertahanlah” kata Jiwon pada Yura.

Siwon sendiri juga ikut melebarkan matanya melihat darah segar mengalir dari kaki istrinya ke lantai. Tubuhnya membeku dengan matanya tetap terpaku pada setiap gerak-gerik wanita yang sudah dinikahinya. Wajah wanitanya itu pucat pasi dan bibirnya yang juga gemetar. Tidak lama kemudian Ibunya memanggil Lee Ahjumma, butler wanita dirumahnya. Wanita paruh baya itu datang dengan cepat dan langsung melebarkan matanya melihat keadaan yang kacau disana. Melihat wanita yang sudah dianggapnya anak sendiri sejak tinggal dirumah itu sekaligus istri dari majikan mudanya. Membuat hatinya sesak karena begitu pucat dan keadaan Yura yang tidak stabil.

“Ahjumma, tolong bersihkan darah disana” perintah Jiwon dengan suara bergetar. Bagaimana tidak? Dia begitu khawatir dengan keadaan Yura, karena sebenarnya sejak tadi dia mendengarkan pertengkaran antara Yura dan Siwon kakak kandungnya. Apalagi dia melihat kakaknya itu mendorong tubuh wanita itu dengan keras hingga menghasilkan suara debuman jelas. Tidak hanya keadaan Yura yang dia khawatirkan, namun janin yang sedang dia kandung. Mengingat Yura masih mengandung selama 3 bulan ini dan waktu itu masih rentan keguguran. Dia benar-benar belum siap kehilangan keponakannya itu.

Jiwon menuntun Yura perlahan dibantu Eommanya disisi lain keluar dari kamar itu. Tepat saat mereka sampai diruang tamu, Yesung yang adalah kakak kandung Yura datang. Dia terkejut melihat adik satu-satunya itu dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Tujuan utama dia datang kekediaman Choi itu untuk memberikan kejutan dengan membawa makanan kesukaan adiknya. Namun, dirinyalah yang dikejutkan dengan keadaan kacau itu. Tanpa pikir panjang Yesung langsung menggendong adiknya ala bridal style dan memasukkannya ke mobilnya sendiri diikuti Jiwon serta Mrs. Choi. Wajah pria itu terlihat khawatir dan juga takut karena dia sudah tahu semua cerita serta apapun yang dialami Yura dari Mrs. Choi maupun Jiwon.

Yura sejak tadi hanya menahan sakitnya dengan bernafas secara teratur. Dia begitu khawatir dengan janin yang dikandungnya. Dia tidak mau kehilangan janin yang selama ini bersarang dirahimnya. Apapun yang terjadi, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan walau dirinya yang akan terluka. Jiwon duduk disamping Yesung yang menyetir mobil menuju rumah sakit. Sedangkan, Mrs. Choi duduk disamping Yura seraya memeluk wanita yang menjadi menantunya itu. Yura menyandarkan tubuhnya penuh pada Ibu mertuanya disebelahnya. Dia lelah menahan sakit yang masih mendera dirinya.

“Sayang, bertahanlah. Semua akan baik-baik saja” lirihnya seperti berbisik pada menantunya itu. Yura hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

 

~S&Y~

 

Siwon masih berdiri ditempatnya tadi sebelum Yura dibawa keluar dari ruangan itu. Matanya menatap lantai yang sudah bersih dengan pintu dimana Yura dibawa keluar oleh Ibu dan adiknya secara bergantian. Ketika dia melihat gerakan wanita paruh baya itu yang akan keluar. Siwon langsung melangkahkan kakinya dan berdiri didepan Lee Ahjumma. Wanita itu hanya menghentikan langkahnya dengan kepala yang tertunduk. Tangannya menggenggam lap yang dipenuhi darah Yura itu erat.

“Ahjumma, bisa kau jelaskan semuanya padaku. Sebenarnya ada apa dengan Yura?” ucap dan tanya Siwon pada wanita didepannya.

“Untuk apa anda bertanya tentang Nona Yura. Saya harus pergi untuk mengerjakan yang lainnya” ucapan Lee Ahjumma membuat Siwon mengerang.

“Aku mohon, jangan bertingkah seolah-olah Ahjumma baru mengenalku sebagai atasanmu. Sebenarnya ada apa, Ahjumma?” tanya pria tampan itu lagi.

“Tuan muda Choi, sejak dulu Ahjumma membantu Nyonya untuk membesarkanmu dan bahkan Ahjumma sudah menganggapmu anak kandung Ahjumma sendiri. Tapi..” ucap Lee Ahjumma terputus. Dia tidak bisa meneruskan kalimatnya karena tenggorokannya tercekat.

“Tapi apa, Ahjumma?”

“Tapi, kini Ahjumma benar-benar kecewa padamu, Tuan. Kau bukan tuan muda Choi yang Ahjumma kenal dulu. Kau benar-benar berubah. Ahjumma kecewa padamu, Tuan” ungkap Lee Ahjumma dengan nada kecewa dan sedih. Matanya terlihat sendu menatap lantai.

Mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu, membuat Siwon tertegun. Selama ini dia memang tidak pernah bersikap kejam dan kasar pada semua orang. Bahkan terkesan lembut dan ramah terhadap orang-orang yang bertemu dengannya. Apalagi Lee Ahjumma juga sering mengajari hal-hal kebaikan pada pria tampan bertubuh atletis tersebut. Namun, kini dia sadar bahwa perilakunya tidak mencerminkan dirinya yang dulu. Dirinya yang selalu bersikap ramah dan suka membantu siapapun, tanpa diminta untuk membantu.

Siwon mulai berubah ketika dia mendengar cerita yang tidak benar tentang istrinya dan hasutan dari wanita yang selalu menjadi teman curahan hati Yura. Jung Sojung yang selama ini dikenalnyalah yang membuat dirinya lupa akan siapa dirinya. Bahkan dia juga mulai terbawa oleh semua cerita dari Jung Sojung hingga dia melupakan perasaannya untuk Yura sang istri.

“Ahjumma, kau tidak mengerti. Yura itu..” ucapan Siwon terpotong oleh Lee Ahjumma.

“Tuan, dengarkan Ahjumma. Selama ini apapun yang kau katakan pada nona Yura. Entah, itu sifat dan sikapnya. Tidak seperti yang tuan duga, nona Yura adalah wanita yang baik dan juga tipe pekerja keras. Bahkan walaupun dia sedang hamilpun, dia tetap pergi bekerja untuk membuktikan padamu bahwa dia bisa menjadi yang kau inginkan, tuan” ucapan Lee Ahjumma membuat Siwon melebarkan matanya tidak percaya.

“Mwo?” ucap Siwon dengan nada terkejut. Lee Ahjumma langsung membekap mulutnya sendiri. Dia mengutuk dirinya karena keceplosan mengungkapkan sebuah kalimat yang seharusnya dirahasiakan.

Yura memang menyuruh para penghuni rumah untuk merahasiakan kehamilan dan pekerjaannya dari Siwon. Sejak menemui pria tampan dikantornya waktu itu, setibanya dirumah Yura menangis sesenggukkan. Wanita itu menceritakan apapun yang melukai hatinya kepada Mrs. Choi. Malamnya tanpa sepengetahuan Siwon, Yura mengungkapkan pada mereka semua untuk merahasiakan tentang keadaan dan pekerjaannya dari suaminya. Kedua orang tua Siwon dan Jiwon serta para staff dirumah itu hanya bisa mengabulkan permintaan Yura. Yang pada akhirnya, mereka memang benar-benar menjaga rahasia itu rapat-rapat dan bersikap seperti biasa.

Tanpa pikir panjang, Lee Ahjumma pergi dari ruangan itu secepat yang dia bisa dan meninggalkan Siwon sendirian. Pria tampan itu juga pergi meninggalkan rumahnya menuju tempat yang biasa dia datangi. Rumah yang tidak terlalu besar dan bersih tersebut. Siwon memasuki rumah itu tanpa harus mengetuknya terlebih dulu. Disana dengan tidak sengaja dia mendengarkan percakapan wanita yang sedang singgah dihatinya, meski belum resmi menjadi kekasihnya. Berbicara dengan seseorang diline telepon.

“Hah, aku lega sekali Minah-ya. Melihat hubungan Yura dan Siwon sudah berada diujung tanduk” ucap Sojung wanita yang sedang menelepon itu. Siwon mengerutkan keningnya penasaran dengan yang dibicarakan wanita itu.

“Kau benar. Mungkin sebentar lagi Siwon akan menceraikan wanita sialan itu. Dan tidak lama lagi dia menjadi milikku” jeda Sojung. “Aku benar-benar tidak sabar melihat Yura yang selama ini dikenal sebagai tuan putri itu menjadi wanita janda” jeda Sojung lagi. Terdengar tawa jahat dan sinis dari bibir wanita itu.

“Hah, Siwon itu terlalu bodoh dan mudah untuk dihasut. Aku hanya perlu menceritakan cerita sedih maupun hal-hal yang menjelekkan Yura dan menangis. Dia langsung terbawa suasana yang aku buat. Kau tahu? Dia pernah menghina wanita sialan itu didepanku secara langsung. Hah, aku benar-benar puas waktu itu” mendengar ucapan wanita itu membuat amarah Siwon tersulut. Siwon masih menahan amarahnya dan tetap mendengar kalimat selanjutnya dari wanita tersebut.

“Yura? Kau tahu sendirikan aku tidak pernah sedikitpun menganggapnya sebagai temanku. Aku hanya memanfaatkannya selama ini. Dia itu hanya terlalu naif dan bodoh. Wanita sialan yang sangat menyebalkan. Kau tahu, kan? Aku sangat membencinya” jelas Sojung dengan suara yang terdengar marah.

“Sejak dulu aku memang ingin menghancurkan kehidupan wanita itu” tambahnya.

Mendengar ucapan terakhir itu, Siwon langsung pergi dari rumah yang ditinggali oleh wanita tak tahu diri dan sudah kehilangan rasa malunya. Pria tampan itu membanting pintu depan rumah tersebut dengan keras. Membuat wanita yang sejak tadi duduk disofa dan menelpon temannya tersentak. Dengan cepat wanita itu keluar dari rumahnya dan melihat mobil yang sudah pergi meninggalkan rumahnya. Sojung sadar jika mobil itu milik dari Siwon. Dia sangat tahu sifat dan sikap Siwon yang sudah seperti itu, meski dia baru dekat dengan Siwon semenjak Yura mengenalkan dirinya pada pria tersebut.

“ARGH! BRENGSEK” umpat Sojung seraya mengacak rambutnya. “Ah, nanti aku telepon lagi” ucapnya lalu memutuskan line telepon tersebut.

 

~S&Y~

 

Siwon kini berada dirumah mewahnya yang memang tempat tinggal dirinya dan keluarganya berada. Dia baru saja akan membuka knop pintu depan rumahnya. Terdengarlah suara deru mobil yang baru saja berhenti. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat adiknya turun dari taxi yang dia tumpangi. Jiwon sang adik berjalan menuju ditempatnya tanpa melihatnya, karena wanita muda itu sedang memainkan smartphonenya. Ketika gadis itu berada didepannya, dia mendongakkan kepalanya dan mata cokelatnya melebar melihat pria tampan itu berdiri tepat didepannya.

Jiwon tidak menghiraukan kakaknya, lalu dia dengan santainya melewati pria itu dan membuka knop pintu. Baru melangkahkan kakinya dia merasakan tangannya digenggam. Dengan satu sentakan tangan yang memegangnya terlepas dan dia melanjutkan jalannya menuju kamar. Jiwon pulang ke rumah karena dia ingin mengambil berganti baju dan mengambil beberapa pakaian untuk Eommanya yang masih berada di rumah sakit. Sekaligus dia ingin membawa mobil milikinya, mengingat tadi saat menuju rumah sakit menggunakan mobil kakak kandung Yura, Yesung.

“Jiwonie, Oppa ingin bicara padamu” ucap Siwon setelah melihat adiknya keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap. Jiwon tidak mengindahkan perkataan kakaknya dan memilih melanjutkan jalannya menuju kamar orangtuanya.

“Jiwonie, Oppa mohon” pinta Siwon lagi. Jiwon masih mengabaikan kakaknya. Seperti saat dia melihat pria tampan itu mengabaikan istrinya sendiri.

Siwon tidak menyerah dia kemudian membalikkan tubuh Jiwon saat adiknya itu sedang merapikan pakaian Ibunya ke dalam tas besar ukuran sedang. Bisa dilihatnya, raut wajah didepannya itu menahan amarah dan kekesalannya. Siwon tahu bahwa adiknya itu sedang menahan umpatan dan makian untuknya. Dia sadar bahwa adiknya itu benar-benar tidak terima dengan segala sifat dan sikapnya terhadap Yura. Dia teringat ucapan Lee Ahjumma bahwa dia memang sudah berubah menjadi pria kejam dan kasar. Meskipun bukan pada dirinya ataupun Ibunya tapi, tetap saja dia seperti tidak melihat orang yang selama ini menjadi teman bermain dan tempat perlindungannya menjadi orang berbeda.

“Oppa, mohon” pinta pria itu. Jiwon hanya menghela nafas malas dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

“Bicaralah” malas Jiwon menatap kakaknya.

“Katakan pada kakak. Apa yang kakak tidak tahu dengan keadaan Yura? Apa yang dikatakan Lee Ahjumma benar?” tanya Siwon dengan nada menuntut. Jiwon sempat terkejut, namun detik kemudian dia mengubah raut wajahnya kembali tenang dan santai.

“Apa pedulimu dengan keadaan Yura? Seharusnya kau senang karena telah membuatnya celaka. Itukan yang kau mau, SIWON OPPA” ujar Jiwon dengan menekankan kalimat ‘Siwon Oppa’.

“Jiwon, Oppa..” ucapan Siwon terputus oleh Jiwon yang mulai melepaskan bahunya dari cengkeraman Siwon. Dia lalu meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.

“Oppa, kau benar-benar telah berubah ya” ungkap Jiwon sinis.

“Jiwonie, Oppa mohon. Jelaskan apa yang terjadi dengan Yura? Apa benar dia sekarang sedang hamil? Jelaskan pada Oppa” tanya Siwon bertubi-tubi dengan nada penuh penyesalan.

“Untuk apa Oppa tahu? Apa Oppa akan kembali mencelakai Yura, huh? Atau Oppa sudah merencanakan hal lain?” bukannya menjawab Jiwon malah bertanya pada Siwon.

“Jiwonie, Oppa mohon” lirih Siwon sambil menundukkan kepalanya. Jiwon masih marah dan kesal atas perbuatan kakaknya sehingga membuat Yura masuk rumah sakit. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan pria tampan itu dan melanjutkan kegiatannya.

“Jiwonie, setelah Oppa mengetahui semuanya. Oppa, berjanji padamu bahwa Oppa akan memperbaiki semua kesalahan Oppa” terang Siwon dengan nada yang terdengar frustrasi.

“Gojimal. Aku tidak akan termakan dengan ucapanmu barusan” ujar Jiwon menirukan nada bicara Siwon pada istrinya. Siwon menutup matanya untuk meredakan emosinya dan menghembuskan napas panjang.

“Oppa, tidak berbohong. Oppa, janji padamu. Jiwonie..” ucapan Siwon terpotong oleh Jiwon.

“Aku tidak percaya padamu, Oppa” kata Jiwon seraya menarik resleting tas besar yang akan dia bawa ke rumah sakit.

“Demi Tuhan, Jiwonie. Oppa mohon dengan sangat, katakan ada apa dengan Yura. Oppa mohon” ucapan Siwon yang terdengar putus asa dengan raut wajah yang terlihat penuh penyesalan itu. Membuat Jiwon mau tidak mau menceritakan semua yang telah dialami oleh Yura.

“Oppa, sejak kau mengatakan bahwa kau menyesali telah menikahi Yura saat kau baru pulang dari Jepang waktu itu. Dari situlah wanita itu mulai mencari-cari pekerjaan yang menurutnya dia bisa. Ketika dia tidak diterima dimanapun. Akhirnya, Song Gomo (bibi dari keluarga sendiri) menawarkan Yura bekerja ditempatnya. Song Gomo sendiri kagum dengan hasil kerja Yura saat pertama kali dia mendesain gaun untuk pernikahan temannya. Disitulah dia menerima dan memposisikan Yura dibagian mendesain. Lalu, setelah itu tidak lama Yura positif hamil” jeda Jiwon seraya menatap Siwon yang begitu serius mendengar ceritanya. Kini mereka berdua duduk ditepi ranjang orang tuanya.

Lalu Jiwon kembali menceritakan keadaan Yura. “Saat anniversary kalian yang pertama, Yura sangat bersemangat menyiapkan dirinya untuk pergi ke kantormu dengan alasan ingin memberikanmu kejutan. Namun, ketika dia pulang ke rumah wajah terlihat sedih dan kecewa. Dengan nada pilu dia mengatakan bahwa kau telah menemukan wanita lain dihatimu dan kau bilang kau menyesal menikahinya” jelas Jiwon dengan raut sedih.

Siwon ingat, hari dimana dia melihat Yura datang dikantornya dan melihat dirinya tengah memeluk orang yang selama ini dikenalnya adalah teman Yura. Disana dia juga membentak dan membeda-bedakan Yura dengan wanita bernama Jung Sojung itu. Dia juga menghina dan mempermalukan istrinya didepan wanita yang sekarang ini telah berhasil merubah dirinya. Sehingga membuat dia begitu membenci dan berencana untuk menceraikan wanita yang mencintainya. Tapi, pada akhirnya kenyataan yang sebenarnya telah terungkap. Dengan dia mendengar sendiri pembicaraan wanita yang hampir memasuki hatinya. Kenyataan bahwa semua yang dikatakan wanita itu adalah kebohongan belaka dan membuatnya kecewa, marah dan dipenuhi dengan penyesalan terhadap istrinya.

Kini yang ingin dia lakukan adalah bertemu dengan istrinya dan meminta maaf atas apa yang selama ini dia lakukan padanya. Dia juga ingin memulai semuanya dari awal dengan wanita cantik itu. Namun, didalam hatinya yang paling dalam adalah dia sangat bersyukur pada Tuhan mengetahui bahwa istrinya sedang hamil. Dan sebentar lagi dirinya akan menjadi ayah. Siwon akan melakukan apa saja untuk menebus semua kesalahannya pada istrinya. Meski, dia tahu bahwa dia mungkin akan kesulitan untuk membuat Yura kembali ke dalam pelukannya. Mengingat dia begitu dingin dan kasar memperlakukan Yura. Apalagi tadi dia sudah mencelakai Yura hingga membuat istrinya pendarahan.

“Oppa, aku berharap kau tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Yura terluka lagi” Siwon langsung menolehkan kepalanya pada adiknya itu. Bisa dilihatnya wajah wanita yang lebih muda darinya tiga tahun itu sedih dengan tatapan matanya sendu. “Buatlah dia bahagia, Oppa. Sudah cukup aku melihatnya selalu menangis sampai dia tertidur karena kelelahan untuk menangis. Buatlah dia tersenyum” tambah Jiwon dengan suara bergetar. Jiwon menatap kakaknya tepat dikedua matanya lekat.

“Oppa, berjanjilah padaku. Kau akan membuatnya bahagia” ujar Jiwon kembali seraya menghapus airmata yang sempat turun dari matanya. Siwon menganggukkan kepalanya seraya mengusap surai adiknya sayang.

“Pasti. Aku akan melakukan apapun untuk bisa memperbaiki semuanya dan membuat dia bahagia. Aku berjanji” ucap Siwon tulus dengan senyuman yang mulai terlihat diwajahnya. Kini hatinya lega mendengar semua cerita dari Jiwon.

 

~S&Y~

 

Siwon kini sudah berada diarea parkir rumah sakit bersama dengan adiknya. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri adiknya yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong demi lorong di rumah sakit. Siwon melihat disana masih ada ibunya dan Yesung yang masih duduk dibangku tunggu. Ibunya terlihat khawatir dengan keadaan menantunya terbukti dari raut wajahnya yang pucat dan kedua tangannya saling bertautan. Sedangkan, Yesung sendiri tidak jauh berbeda dengan Mrs. Choi. Dia bertopang dagu dengan kedua tangannya dan raut wajahnya yang terlihat kusut.

“Eomma, bagaimana keadaan Yura?” tanya Jiwon yang langsung menghampiri ibunya. Siwon sendiri memilih berdiri tidak jauh dari mereka untuk mendengarkan percakapan tersebut.

“Dokter sejak tadi belum keluar, sayang. Eomma berharap dia akan baik-baik saja” jawab Mrs. Choi seraya memeluk tubuh putrinya itu.

“Yesung Oppa, gwenchanayo?” tanya Jiwon pada Yesung yang ada disamping ibunya. Yesung menolehkan kepalanya memandang wanita itu dan menganggukkan kepalanya. Lalu mata pria itu melihat bahwa disana ada Siwon yang berdiri sambil menatap dirinya.

Yesung yang sudah diceritakan oleh ibu dan Jiwon ketika menuju rumah sakit tadi. Langsung berdiri dan menghampiri Siwon dengan amarah yang kembali tersulut. “Kau!” serunya.

‘BUG’

Satu pukulan diterima Siwon namun, pria tampan itu tidak membalasnya. Dia kembali berdiri seraya menghapus darah yang berada disudut bibirnya. Sejak tadi dia memang sudah siap untuk menerima pukulan, makian dan marah mereka. Mungkin dengan begitu Siwon bisa membantu menghilangkan rasa kekesalan, kekecewaan dan kesedihan yang diberikannya pada mereka juga. Meski hanya Yura yang dia perlakukan tidak adil, namun mereka yang melihatnya juga terbawa suasana yang dibuatnya. Sehingga mereka juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Yura.

“Aku juga menyesal telah merestui hubunganmu dengan adikku, brengsek. Kaulah yang tidak tahu diri dan menyedihkan” seru Yesung memaki Siwon yang hanya melihatnya dengan tatapan tenang.

“Pukul aku lagi, Hyung. Jika itu bisa membuatmu lega. Pukul aku lagi” ucap Siwon yang semakin membuat amarah Yesung semakin menjadi.

Yesung sudah hampir memukul Siwon lagi ketika suara Jiwon menghentikannya. Mereka menoleh bersamaan dan didepan pintu kamar pasien ada dokter yang baru saja keluar. Mrs. Choi dan lainnya kecuali Siwon langsung menghampiri dokter itu. Raut wajah mereka sama, dipenuhi rasa ingin tahu tentang keadaan Yura.

“Bagaimana keadaan menantuku, Sajang-nim?” tanya Mrs. Choi tidak sabar. Jiwon hanya menganggukkan kepalanya seraya merangkul lengan ibunya.

“Yura-ssi keadaannya sudah jauh lebih sekarang. Kandungannya sudah mulai stabil kembali. Untung anda cepat membawa dia kemari, karena jika tidak. Mungkin dia akan mengalami keguguran mengingat kehamilannya masih terbilang rentan” jelas dokter itu seraya tersenyum hangat.

Mrs. Choi dan Jiwon tersenyum lega mendengar kabar bahwa Yura dan bayinya baik-baik saja. Yesung menghela nafas lega seraya mengusap dadanya pelan. Dia menolehkan kepalanya memandang Jiwon dengan senyuman terpatri diwajah tampannya. Jiwon membalasnya dengan senyuman lebar. Siwon sendiri berucap syukur dalam hatinya mendengar kabar baik tersebut.

“Apa saya boleh masuk, Sajangnim” ucap Mrs. Choi.

“Boleh. Kalau begitu saya permisi dulu” kata dokter tersebut seraya menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan mereka.

Mrs. Choi dan Jiwon serta Yesung masuk, Siwon sendiri memilih duduk dibangku tunggu. “Ya Tuhan, maafkan aku yang selama ini kejam dan kasar pada istriku sendiri. Aku berjanji akan berubah. Memperbaiki segalanya dan memulainya dengan kebaikan” gumam Siwon pelan.

 

~S&Y~

 

Dua hari kemudian, setelah tahu bahwa Yura mengalami kelelahan dan banyak pikiran. Apalagi wanita cantik itu menghantam lantai cukup keras akibat didorong oleh suaminya sendiri. Maka, terjadilah pendarahan dan keadaan menjadi lemah. Sangat berbahaya untuk kondisi janinnya. Namun, dokter sudah memberikan obat yang dapat menstabilkan keadaan Yura dan janinnya. Kandungannya mulai baik dan stabil kembali juga janinnya sehat karena obat yang diberikan oleh sang dokter. Yura dan orang-orang yang berada disekitarnya yang mendengarnya menjadi lega dan bersyukur pada Tuhan.

Terlihat Yura yang kini sudah lebih baik dibandingkan waktu lalu. Dia kini sedang berada ditaman sendirian karena Jiwon dan Yesung kembali pada aktifitasnya yang sempat tertunda. Sedangkan, Mrs. Choi sedang pulang untuk mengambil kebutuhan yang dibutuhkannya selama menjaga menantu cantiknya tersebut. Dipagi itu, Yura memandangi taman itu dengan tatapan lembutnya. Hatinya dalam keadaan tenang dan baik, meski begitu dia masih merindukan sang suami yang sampai sekarang belum menemui atau mengunjungi dirinya. Wanita cantik itu memang sampai sekarang masih mencintai sang suami. Hanya saja untuk waktu dekat ini dia masih belum siap bertemu pria itu. Mengingat dia masih trauma dengan peristiwa malam itu. Dimana dia bertengkar dengan Siwon dan akhirnya dia harus dibawa ke rumah sakit akibat perbuatan sang suami.

Wanita cantik itu menutup kedua matanya dan menghirup udara segar disekitarnya. Dia membuka matanya ketika mendengar suara mungil tidak jauh darinya duduk dibangku taman rumah sakit. Dia melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk dikursi roda. Sepertinya gadis itu belum bisa berjalan sendiri karena dibetis salah satu kakinya dililit oleh perban. Gadis kecil itu tertawa riang melihat wanita yang sedang berdiri didepannya. Wanita tersebut mengeluarkan permen dan mainan ditasnya. Lalu mereka terlihat asyik bermain bersama. Tanpa sadar, tangan Yura mengusap perutnya yang sudah mulai membesar mengingat kehamilannya sudah menginjak 3 bulan.

Yura lalu menerawang langit pagi yang cerah dengan senyuman yang masih melekat diwajah cantiknya. Meski wajahnya tidak dipoles make-up dan sedikit pucat. Namun, kecantikannya tidak pernah hilang dari wajahnya. Lalu sebuah buket bunga muncul didepan wajahnya, dia sedikit tersentak. Pandangannya menoleh pada sang pelaku yang membawa buket bunga tersebut. Matanya menatap lebar pada pria yang memandangnya lembut dengan senyuman tampan diwajahnya. Dengan reflek dia memundurkan tubuhnya dengan perasaan takut. Dia takut pria didepannya ini kembali melukainya seperti peristiwa waktu lalu.

“Pe.. pergi.. pergi” lirih Yura seraya duduk membelakangi suaminya. Membuat senyuman yang melekat diwajah tampan itu memudar.

Siwon sang pria yang membawa bunga tersebut, dia melihat tubuh istrinya bergetar dan wajahnya yang pucat pasi. Seperti dirinya adalah hantu yang meneror wanita didepannya. Siwon sedih melihat reaksi Yura yang sepertinya masih trauma akan perbuatannya. Lalu pria tampan itu kembali berdiri tepat didepan istrinya. Yura kembali berucap menyuruh suaminya untuk tidak mengganggunya dan pergi dari sana.

“Pergi.. pergi.. jangan ganggu aku.. pergi” lirih Yura lagi. “Aku berjanji tidak akan muncul didepanmu dan mengganggumu lagi. Aku berjanji” tambahnya dengan suara bergetar.

Siwon bisa melihat airmata itu mulai menetes melewati pipi putih pucat itu. Yura sendiri tidak berani menatap sang suami yang sejak tadi berada didepannya. “Yura, sayang. Aku mohon, jangan seperti..” ucapan Siwon terpotong dengan suara Yura.

“Pergi.. aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Pergi.. pergi.. PERGI!” ucap Yura dengan suara meninggi.

Siwon membeku melihat Yura yang terlihat tidak mau memandangnya. Bahkan dia sempat melihat mata indah itu memancarkan ketakutan yang mendalam. Bukannya pergi Siwon duduk disebelah istrinya dan memeluk tubuh rapuh itu. Wanita cantik itu memberontak dan memukul dada bidang suaminya seraya berteriak histeris. Orang-orang yang berlalu lalang tersentak melihat aksi Yura yang seperti orang sakit jiwa. Mereka juga mulai berbisik-bisik disana, beberapa suster datang dan memisahkan tubuh Siwon dari Siwon.

Mrs. Choi yang baru datang penasaran dengan keramaian itu langsung mendekati taman itu. Dia ingat bahwa menantunya berada disana sendirian sebelum dia meninggalkannya. Mrs. Choi melebarkan matanya melihat Yura masih menangis histeris dan Siwon yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Yura dan mendekap tubuh rapuh itu untuk menenangkannya. Sadar orang yang tengah memeluknya, Yura langsung memanggil ‘Eommonim’ terus menerus dan menyuruh pria itu pergi dari sana.

Mrs. Choi menatap tajam putranya sekilas lalu kembali menatap menantunya dan berucap kalimat penenang untuk Yura. Mrs. Choi mereka membantu membawa Yura untuk kembali ke kamar rawatnya. Sedangkan, Siwon sendiri termenung ditaman sendirian karena semua orang yang tadi berkerumun mulai meninggalkan taman. Hatinya perih melihat kenyataan untuk pertama kalinya istrinya tidak ingin melihatnya. Dia sadar jika semua itu terjadi karena ulahnya sendiri, dimana dia selalu menorehkan luka yang menyakitkan pada wanitanya. Mungkin luka itu bisa disembuhkan, namun pasti membutuhkan waktu yang panjang. Siwon menghela napas dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamar rawat istrinya. Buket bunga itupun masih dipegangnya, meski bentuknya sudah berantakan.

 

~S&Y~

 

Yura kini lebih tenang dan sudah bisa tersenyum, apalagi kakak kandungnya berada disana untuk menemaninya. Yesung sang kakak menghibur Yura dengan cara menyanyikan lagu kesukaan adiknya. Pria tampan itu juga memberikan candaan dari setiap cerita yang diucapkannya. Entah itu cerita kesehariannya atau hal-hal menarik dan lucu yang dialaminya. Yesung menghela napas lega melihat adiknya sudah mau bercerita dan memakan makanannya. Tidak seperti saat dia baru sadar kemarin, tidak mau bicara bahkan tatapannya begitu kosong.

“Hahaha, Oppa. Aku tidak melakukannya. Sungguh. Waktu itu terjadi begitu saja” ucap Yura disela-sela tawanya.

“Hei, apa kau pikir Oppa tidak melihatnya, hem?” ujar Yesung pura-pura marah. Membuat adiknya meringis kuda menampilkan giginya yang putih.

Yesung mengacak-acak rambut hitam halus Yura seraya menatap adiknya itu. “Sayang, apa masih ada yang mengganggu pikiranmu lagi?” tanya Yesung saat melihat perubahan wajah Yura. Adiknya terlihat diam tak berbicara atau tertawa lagi. Mendengar itu Yura menoleh pada kakaknya dan tersenyum seraya menggeleng kepalanya.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya saja sekarang aku ingin sesuatu, Oppa” ujar Yura sambil mengerjapkan matanya.

“Kau mau apa, heum?” tanya Yesung.

“Aku sekarang mau spaghetti, ddeokboki, dan patbingsoo” jawab Yura menyebut keinginannya.

Yesung tersenyum mendengar keinginan adiknya, dia berpikir mungkin sekarang wanita tersebut sedang dalam masa ngidamnya. Dia mengusap pipinya Yura lembut, sedangkan Yura membalasnya dengan senyuman manis mengembang diwajah cantiknya hingga eyes smilenya terbentuk.

“Baiklah, Oppa akan membelikannya untukmu. Oppa, tinggal sebentar. Okey” ucap Yesung seraya berdiri. Melihat kakaknya akan berjalan, tangan Yura langsung memegang lengan pria. Membuat pria itu berhenti dan menolehkan kepalanya pada adiknya kembali.

“Oppa, ikut. Aku takut disini sendirian. Jebalyo” ucapan Yura ada benarnya dan Yesung tahu itu.

Pria tampan itu juga mengetahui perihal adiknya yang masih ketakutan, karena dia melihatnya sendiri ketika dia sedang berjalan menuju kamar rawat Yura. Dia melihat disana Mrs. Choi sedang menceramahi dan tidak mengijinkan pria bertubuh atletis itu menemui sang istri. Mengingat dokter yang memeriksa Yura mengatakan bahwa wanita yang tengah hamil muda itu sedang mengalami tekanan batin dan trauma yang cukup dalam. Sehingga dokter itu menyarankan agar si pasien tersebut untuk tidak ditemui oleh orang yang telah membuatnya trauma berat. Dia mengerti dengan ucapan adiknya itu, Yesung tersenyum lembut untuk menenangkan wanita yang masih dia anggap adik kecilnya.

“Ya sudah, Oppa akan delivery saja. Tapi, penjual ddeokboki didekat sini sangat enak. Oppa akan pergi membelikannya untukmu dan kembali secepatnya. Okey” jelas Yesung.

“Tapi, Oppa..” ucapan Yura terpotong oleh kakaknya.

“Kau tenang saja, sayang. Oppa akan menyuruh suster untuk menjagamu, arrachi?” ujar Yesung.

“Arraseo, Oppa” lirih Yura pelan seraya mengangguk lemah.

“Sayang, Oppa yakin semuanya akan baik-baik saja” Yesung masih berusaha menenangkan adiknya sambil mengusap sisi kepala wanita tersebut.

“Ne” ucap Yura mencoba tersenyum pada kakak kesayangannya. Yesung mengecup kening Yura dan langsung pergi meninggalkan gadis cantik itu sendirian dikamarnya.

Yura langsung merebahkan dirinya diranjang duduk itu dan memainkan smartphonenya yang sejak tadi berada di samping tubuhnya. Yesung yang sangat mengerti adiknya mudah bosan seperti dirinya sengaja membawakan benda kotak persegi itu dan memberikannya pada Yura. Yura tersenyum geli melihat fotonya dulu saat dia masih duduk dibangku senior high school. Senyumannya memudar ketika dia menggerser fotonya dan melihat dirinya yang sedang tersenyum manis. Disebelah dirinya ada seorang pria tampan yang merangkul bahunya dengan tatapan yang mendamba memandangnya. Pria itu adalah Siwonnya yang dulu terlihat begitu manis dan lembut.

Siwon yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Pria yang memiliki hati seperti malaikat yang mampu membuat wanita cantik itu merasa nyaman dan aman. Namun, kini semua itu hanya kenangan manis saja yang pernah dia rasakan. Yura kembali tersenyum ketika dia mengingat pria tampan tertubuh atletis itu mengatakan bahwa dia ingin menikahinya dengan cara manis. Dimana sang pria mengajaknya ke puncak dan disana Yura dikejutkan oleh banyak orang dari keluarganya sampai sahabat dan teman sekelasnya. Padahal waktu itu dia sudah lulus dari kuliah dan baru masuk kerja disebuah perusahaan milik keluarganya.

“Aku merindukanmu, Oppa. Apakah aku masih bisa mengembalikan dirimu yang dulu. Siwonku yang dulu, yang selalu berhasil membuatku tersenyum dan nyaman berada didekatmu. Aku masih sangat mencintaimu, Baby Oppa” gumamnya seraya mengusap layar smartphonenya. Tepatnya difoto Siwon yang sedang tersenyum seraya memegang sebuah kue tart dengan lilin berangka 21 tahun itu. Saat itu Yura yang sedang berulang tahun dan tanpa diduga Siwon datang ke kamarnya. Mengejutkan dirinya yang tengah tertidur lelap dengan cara yang romantis kala itu.

Namun, Yura sadar semua itu hanya kenangan-kenangan manis yang pernah dialaminya. Dia bersyukur pernah mengalami dan merasakannya. “Aku sangat merindukanmu, Baby Oppa” ucapnya sekali lagi seraya memejamkan matanya.

Tidak lama terdengar deru napas teratur, namun smartphonenya masih menyala dengan foto Siwon dan dirinya yang masih terpampang jelas disana. Pintu kamar itu terbuka dan kaki jenjang tersebut masuk kekamar Yura. Pria itu menghampiri ranjang tidur dan tersenyum lembut melihat wajah wanitanya yang sedang terlelap. Mata tajam pria tersebut melirik benda yang masih berada dipelukan wanitanya. Siwon sang pria tampan itu mengulurkan tangan kekarnya dan mengambil benda berbentuk persegi dengan hati-hati. Sangat hati-hati agar sang empu tidak terbangun.

Setelah berhasil mengambil benda itu, tangannya menyalakan benda ditangannya dan menunlock. Wajahnya terlihat sendu ketika melihat foto gambar dirinya dan wanitanya ketika mereka sedang makan malam romantis disebuah restaurant dekat pantai. Pria itu sangat tahu bahwa istrinya masih mencintainya seperti dulu. Rasa bersalah semakin kuat dan rasanya ingin sekali memeluk tubuh itu. Mengatakan bahwa dia menyesal dan ingin mengulang semuanya dari awal.

Siwon meletakkan benda itu diatas nakas dekat ranjang istrinya, lalu dia duduk dikursi yang sudah disediakan dekat ranjang tersebut. Matanya menatap lembut wajah istrinya, perasaannya semakin hancur ketika menyadari bahwa wajah sang istri terlihat semakin tirus dan pucat. Meski, dia tahu istrinya hamil namun, dia tidak pernah mau mencari tahu dan memikirkan perasaan istrinya. Dia dulu sangat dingin dan kasar terhadap istrinya sendiri, padahal Yura selalu berusaha untuk berada disampingnya. Dia mengutuk dirinya yang lebih memilih wanita bersifat lebih jalang itu ketimbang istrinya yang sudah dia kenal sejak mereka masih duduk dibangku junior high school. Seharusnya dia hafal dan peka oleh sifat serta sikap istrinya dibanding wanita itu.

‘Betapa bodohnya aku telah melukai dan mengkhianatimu, sayang. Aku menyesal. Benar-benar menyesal, sayangku. Maafkan aku’ ucapnya dalam hati. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang berada diwajah cantik istrinya. Tangannya lalu mengusap kepala istrinya sangat lembut agar wanitanya tidak terusik.

Siwon tersenyum ketika matanya melirik ke arah perut Yura yang mulai membesar. Siwon lalu menoleh ke arah Yura lagi ketika istrinya itu bergerak dengan suara nafas yang teratur. Pria tampan itu kembali mengusap rambut istrinya dan mendekatkan kepalanya pada wajah Yura. Pria tampan bertubuh atletis tersebut mencium kening wanitanya lama. Lalu berbisik pelan ditelinga wanitanya yang masih terlelap itu.

“Sayang, aku akan membuatmu kembali bahagia. Aku berjanji” ucapnya lirih. Lalu, wajahnya pindah ke depan wajah istrinya dan kembali mendekat. “Aku sangat mencintaimu, istriku. Choi Yura” lanjutnya. Diciumnya bibir mungil itu lembut tanpa disertai lumatan. Dia tidak ingin istrinya terbangun dan histeris seperti kemarin. Siwon sangat terpukul melihat reaksi yang ditunjukkan istrinya. Siwon sadar bahwa dia memang suami yang tidak tahu diri dan buruk.

Siwon melepaskan ciumannya dan kembali mencium kening sang istri sekilas. Lalu dia beranjak pergi karena takut jika istrinya akan bangun dan melihat dirinya ada disana. Pria tampan itu berhenti didepan pintu dan membalikkan tubuhnya pada ranjang istrinya. Ditatapnya wanitanya yang masih terlelap dengan perasaan berat, berat untuk meninggalkan istrinya. Dia sebenarnya masih ingin berada disana berbincang-bincang seraya memeluk tubuh mungilnya. Namun, belum bisa karena reaksi yang ditunjukkan oleh wanita tersebut. Pria tampan bertubuh kekar itu menghela nafas berat mendorong pintu kamar rawat tersebut dengan hati-hati menutupnya.

Ketika dia membalikkan tubuhnya, dirinya terlonjak dan hampir jatuh jika dia tidak menyeimbangkan berdirinya. Dilihatnya pria imut tersebut yang sudah berdiri didekatnya seraya memegang bungkusan makanan. Pria imut namun dewasa itu menatap Siwon penuh selidik. Yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya ke kanan berusaha menghindari tatapan tersebut.

“Tunggu disini dan jangan pergi kemana-mana” ucap pria itu lirih. Mendengar itu Siwon hanya menghela nafas pasrah dan menuruti permintaan pria yang adalah sahabat sekaligus kakak iparnya sendiri.

 

~S&Y~

 

“Apa yang kau lakukan tadi? Dikamar dongsaeng kecilku” tanya pria imut dengan nada dingin menginterogasi pada pria satunya yang duduk disebelahnya.

Dua namja itu kini duduk di taman rumah sakit yang tampak begitu sepi. Waktu menunjukkan pukul 13.00 KST, pantas saja jika disana memang sepi karena siang hari seluruh pasien pasti memilih istirahat ketimbang berada diluar.

Dua pria namja itu, Yesung pria imut yang memiliki darah daging ayah Yura yang juga Ayahnya. Sedangkan, pria satunya adalah suami Yura, Choi Siwon yang tadi berada dikamar adik Yesung.

“Aku hanya menjenguk istriku, Hyung” ucap Siwon sambil memandang ke depan.

Yesung menolehkan kepalanya cepat ke arah pria disampingnya. Yesung menghembuskan tawa sinis sebelum akhirnya berkata, “Hah, kau masih menganggap dongsaengku adalah istrimu” ucap Yesung tanpa menoleh ke arah Siwon. Mendengar ucapan pria imut tersebut membuat Siwon menghela nafas.

“Aku tahu aku salah, Hyung. Aku tahu selama ini aku kejam dan kasar padanya. Namun, kali ini aku ingin berubah. Berubah menjadi Siwon yang dulu. Yang Yura kenal dan pria yang dicintainya” ujar Siwon dengan kepala yang menunduk.

“Tapi, aku takut jika dia akan kembali menolakku kembali seperti saat itu” lanjutnya. Kedua tangannya mengacak rambutnya frustrasi.

“Pantas saja jika dia seperti itu. Sebenarnya apa masalahmu? Hingga tega memperlakukan istrimu sendiri seperti itu. Bukankah kalian sudah berhubungan saat masih Junior High School dulu. Seharusnya kau lebih tahu bagaimana sifat dan sikapnya” ujar Yesung seraya menolehkan kepalanya pada pria tampan disebelahnya. Siwon juga menatap Yesung dengan pandangan penuh penyesalan.

“Hyung, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Aku berjanji, akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bisa membahagiakan istri serta anak-anakku” ucap Siwon seraya mengusap kasar wajahnya frustrasi.

Yesung hanya bisa menghela nafas mendengar penuturan orang yang sudah dia anggap adiknya sendiri. Yesung memang sudah sangat mengenal Siwon karena pria tampan itu memang tidak jarang main dan menginap dirumahnya. Ketika Yura sedang sakit pun Siwon pasti akan menjaga dan merawat adik kecilnya. Selain itu juga Yesung dan Siwon sering bertanding bola sepak bersama teman-teman Yesung.

“Siwon-ah, apakah kali ini kau bisa aku percaya. Aku benar-benar tidak mau mendengar atau melihat dongsaeng kecilku terluka lagi” ucap Yesung akhirnya setelah lama berdiam diri dengan pikiran-pikiran yang bersarang diotaknya.

Siwon menganggukkan kepalanya dan berkata, “Hem, kau bisa mempercayaiku. Kau boleh memotong lidahku, jika aku kembali membuatnya terluka dan menangis” Siwon mengucapkannya dengan mantap.

Yesung bisa melihat mata tajam seperti miliknya tersebut menampilkan kesungguhan dari pemiliknya. Tanpa ragu Yesung menganggukkan kepalanya dan berkata, “Baiklah. Aku pegang janjimu, Choi Siwon” pria imut berpipi chubby tersebut menepuk punggung Siwon dua kali sebelum akhirnya dia berdiri dari bangkunya.

“Sebaiknya, sekarang aku kembali ke kamar Yura. Aku tidak mau dia sedih dan ketakutan jika aku tidak berada disampingnya. Tadi aku masuk hanya meletakkan bungkusan makanan saja” ujar Yesung dan mulai melangkahkan kakinya. Sebelum Yesung menapakki lantai keramik, dia mendengar suara Siwon yang mampu membuatnya tersenyum.

“Gomawoyo, Hyungie” seru Siwon yang berterima kasih pada kakak kandung istrinya. ‘Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus berjuang. Siwon-ah, Fighting’ ucap Siwon bersemangat. Baca lebih lanjut

EXO DAN SNSD BERTUKAR JIWA #Chapter 4

0

Lucu pake bgt..^^

exo snsd

Title       : EXO dan SNSD Bertukar Jiwa????
Author  : Baconyeojachingu
Pairing  : kim Joon Myun a.k.a Suho & Kim Tae Yeon  #mian marganya sama
Byun Baek Hyun & Tiffany Hwang a.k.a Hwang Mi Young
Park Chan Yeol & Jessica Jung a.k.a Jung Soo Yeon
Do Kyung Soo a.k.a D.O & Sunny a.k.a Lee Sun Kyu
Kim Jong In a.k.a Kai & Yoona a.k.a Im Yoon Ah
Oh se Hun & Seo Hyun a.k.a Seo Joo Hyun
Genre   : Comedy, romance, friendship, Fantasy, Schoollife
Rating   : PG 15
Length  : Chapter

Author sadar sekali pake banged, banget nya pake d, kalo ini ff telat publish. Mianhaeyo readerdeul… T.T author sangat sibuk untuk memantau kelanjutan kasus eyang subur. #eh, plak! Hadeuh, yg bener aja donk, masa cewe kece badai cetar membahana melintasi garis khatulistiwa seperti saya sibuk ngurusin istri si subur. #eh, plak

Hah, udahlah lama-lama author error nih ngebacot sendiri. Sebenernya…

Lihat pos aslinya 4.093 kata lagi